Hafalan Sholat Delisa (Kisah Nyata Tsunami di Aceh)
Setiap subuh Umi
Salamah selalu mengajak bidadari-bidadarinya sholat jama'ah. Karena Abi Usman
bekerja sebagai pelaut di salah satu kapal tanker perusahaan minyak asing -
Arun yang pulangnya 3 bulan sekali. Awalnya Delisa susah sekali dibangunkan
untuk sholat subuh. Tapi lama-lama ia bisa bangun lebih dulu ketimbang Aisyah.
Setiap sholat jama'ah Aisyah mendapat tugas membaca bacaan sholat keras-keras
agar Delisa yang ada di sampingnya bisa mengikuti bacaan sholat itu.
Umi Salamah mempunyai
kebiasaan memberikan hadiah sebuah kalung emas kepada anak-anaknya yang bisa
menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Begitu juga dengan Delisa yang sedang
berusaha untuk menghafal bacaan sholat agar sempurna. Agar bisa sholat dengan
khusyuk. Delisa berusaha keras agar bisa menghafalnya dengan baik. Selain itu
Abi Usman pun berjanji akan membelikan Delisa sepeda jika ia bisa menghafal
bacaan sholat dengan sempurna
Sebelum Delisa hafal
bacaan sholat itu Umi Salamah sudah membelikan seuntai kalung emas dengan
gantungan huruf D untuk Delisa. Delisa senang sekali dengan kalung itu.
Semangatnya semakin menggebu-gebu. Tapi entah mengapa Delisa tak pernah bisa
menghafal bacaan sholat dengan sempurna.
26 Desember 2004
Delisa bangun dengan
semangat. Sholat subuh dengan semangat. Bacaannya nyaris sempurna kecuali
sujud. Bukannya tertukar tapi tiba-tiba Delisa lupa bacaan sujudnya. Empat kali
sujud empat kali Delisa lupa. Delisa mengabaikan fakta itu. Toh nanti pas di
sekolah ia punya waktu banyak untuk mengingatnya. Umi ikut mengantar Delisa.
Hari itu sekolah ramai oleh ibu-ibu. Satu persatu anak maju dan tiba giliran
Alisa Delisa. Delisa maju Delisa akan khusuk. Ia ingat dengan cerita Ustad
Rahman tentang bagaimana khusuknya sholat Rasul dan sahabat-sahabatnya.
"Kalo orang yang
khusuk pikirannya selalu fokus. Pikirannya satu." Nah jadi kalian sholat
harus khusuk. Andaikata ada suara ribut di sekitar tetap khusuk.
Delisa pelan menyebut
"ta'awudz". Sedikit gemetar membaca "bismillah". Mengangkat
tangannya yang sedikit bergetar meski suara dan hatinya pelan-pelan mulai
mantap. "Allahu Akbar".
Seratus tiga puluh
kilometer dari Lhok Nga. Persis ketika Delisa usai bertakbiratul ihram persis
ucapan itu hilang dari mulut Delisa. Persis di tengah lautan luas yang beriak
tenang. LANTAI LAUT RETAK SEKETIKA. Dasar bumi terban seketika! Merekah panjang
ratusan kilometer. Menggentarkan melihatnya. Bumi menggeliat. Tarian kematian
mencuat. Mengirimkan pertanda kelam menakutkan.
Gempa menjalar dengan
kekuatan dahsyat. Banda Aceh rebah jimpa. Nias lebur seketika. Lhok Nga
menyusul. Tepat ketika di ujung kalimat Delisa tepat ketika Delisa mengucapkan
kata "wa-ma-ma-ti" lantai sekolah bergetar hebat. Genteng sekolah
berjatuhan. Papan tulis lepas berdebam menghajar lantai. Tepat ketika Delisa
bisa melewati ujian pertama kebolak-baliknya Lhok Nga bergetar terbolak-balik.
Gelas tempat
meletakkan bunga segar di atas meja bu guru Nur jatuh. Pecah berserakan di
lantai satu beling menggores lengan Delisa. Menembus bajunya. Delisa mengaduh.
Umi dan ibu-ibu berteriak di luar. Anak-anak berhamburan berlarian. Berebutan
keluar dari daun pintu. Situasi menjadi panik. Kacau balau. "GEMPAR"!
"Innashalati
wanusuki wa-ma... wa-ma... wa-ma-yah-ya wa-ma-ma-ti..."
Delisa gemetar
mengulang bacaannya yang tergantung tadi. Ya Allah Delisa takut... Delisa
gentar sekali. Apalagi lengannya berdarah membasahi baju putihnya. Menyemburat
merah. Tapi bukankah kata Ustadz Rahman sahabat Rasul bahkan tetap tak bergerak
saat sholat ketika punggungnya digigit kalajengking?
Delisa ingin untuk
pertama kalinya ia sholat untuk pertama kalinya ia bisa membaca bacaan sholat
dengan sempurna Delisa ingin seperti sahabat Rasul. Delisa ingin khusuk ya
Allah...
Gelombang itu
menyentuh tembok sekolah. Ujung air menghantam tembok sekolah. Tembok itu rekah
seketika. Ibu Guru Nur berteriak panik. Umi yang berdiri di depan pintu kelas
menunggui Delisa berteriak keras ... SUBHANALLAH! Delisa sama sekali tidak
mempedulikan apa yang terjadi. Delisa ingin khusuk. Tubuh Delisa terpelanting.
Gelombang tsunami sempurna sudah membungkusnya. Delisa megap-megap. Gelombang
tsunami tanpa mengerti apa yang diinginkan Delisa membanting tubuhnya
keras-keras. Kepalanya siap menghujam tembok sekolah yang masih bersisa. Delisa
terus memaksakan diri membaca takbir setelah "i'tidal..."
"Al-la-hu-ak-bar..." Delisa harus terus membacanya! Delisa tidak
peduli tembok yang siap menghancurkan kepalanya.
Tepat Delisa
mengatakan takbir sebelum sujud itu tepat sebelum kepalanya menghantam tembok
itu selaksa cahaya melesat dari "Arasy Allah." Tembok itu berguguran
sebelum sedikit pun menyentuh kepala mungil Delisa yang terbungkus kerudung
biru. Air keruh mulai masuk menyergap Kerongkongannya. Delisa terbatuk.
Badannya terus terseret. Tubuh Delisa terlempar kesana kemari. Kaki kanannya
menghantam pagar besi sekolah. Meremukkan tulang belulang betis kanannya.
Delisa sudah tak bisa menjerit lagi. Ia sudah sempurna pingsan. Mulutnya minum
berliter air keruh.
Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darah menyembur dari mulutnya.
Tangannya juga terantuk batang kelapa yang terseret bersamanya. Sikunya patah. Mukanya penuh baret luka dimana-mana. Dua giginya patah. Darah menyembur dari mulutnya.
Saat tubuh mereka
berdua mulai perlahan tenggelam Ibu Guru Nur melepas kerudung robeknya.
Mengikat tubuh Delisa yang pingsan di atas papan sekencang yang ia bisa dengan
kerudung itu. Lantas sambil menghela nafas penuh arti melepaskan papan itu dari
tangannya pelan-pelan sebilah papan dengan Delisa yang terikat kencang
diatasnya.
"Kau harus
menyelesaikan hafalan itu sayang...!" Ibu Guru Nur berbisik sendu. Menatap
sejuta makna. Matanya meredup. Tenaganya sudah habis. Ibu Guru Nur bersiap
menjemput syahid.
Minggu 2 Januari 2005
Dua minggu tubuh
Delisa yang penuh luka terdampar tak berdaya. Tubuhnya tersangkut di semak
belukar. Di sebelahnya terbujur mayat Tiur yang pucat tak berdarah. Smith
seorang prajurit marinir AS berhasil menemukan Delisa yang tergantung di semak
belukar tubuhnya dipenuhi bunga-bunga putih. Tubuhnya bercahaya berkemilau
menakjubkan! Delisa segera dibawa ke Kapal Induk John F Kennedy. Delisa
dioperasi kaki kanannya diamputasi. Siku tangan kanannya di gips. Luka-luka
kecil di kepalanya dijahit. Muka lebamnya dibalsem tebal-tebal. Lebih dari seratus
baret di sekujur tubuhnya.
Aisyah
dan Zahra mayatnya ditemukan sedang berpelukan. Mayat Fatimah juga sudah
ditemukan. Hanya Umi Salamah yang mayatnya belum ditemukan. Abi Usman hanya
memiliki seorang bidadari yang masih belum sadar dari pingsan. Prajurit Smith
memutuskan untuk menjadi mu'alaf setelah melihat kejadian yang menakjubkan pada
Delisa. Ia mengganti namanya menjadi Salam.
Tiga
minggu setelah Delisa dirawat di Kapal induk akhirnya ia diijinkan pulang.
Delisa dan Abi Usman kembali ke Lhok Nga. Mereka tinggal bersama para korban
lainnya di tenda-tenda pengungsian. Hari-hari diliputi duka. Tapi duka itu tak
mungkin didiamkan berkepanjangan. Abi Usman dan Delisa kembali ke rumahnya yang
dibangun kembali dengan sangat sederhana.
Delisa
kembali bermain bola Delisa kembali mengaji Delisa dan anak-anak korban tsunami
lainnya kembali sekolah dengan peralatan seadanya. Delisa kembali mencoba
menghafal bacaan sholat dengan sempurna. Ia sama sekali sulit menghafalnya.
"Orang-orang yang kesulitan melakukan kebaikan itu mungkin karena hatinya
Delisa. Hatinya tidak ikhlas! Hatinya jauh dari ketulusan." Begitu kata
Ubai salah seorang relawan yang akrab dengan Delisa.
21
Mei 2005
Ubai
mengajak Delisa dan murid-muridnya yang lain ke sebuah bukit. Hari itu Delisa
sholat dengan bacaan sholat yang sempurna. Tidak terbolak-balik. Delisa bahkan
membaca doa dengan sempurna. Usai sholat Delisa terisak. Ia bahagia sekali.
Untuk pertama kalinya ia menyelesaikan sholat dengan baik. Sholat yang indah. Mereka
belajar menggurat kaligrafi di atas pasir yang dibawanya dengan ember plastik.
Sebelum pergi meninggalkan bukit itu Delisa meminta ijin mencuci tangan di
sungai dekat dari situ.
Ketika
ujung jemarinya menyentuh sejuknya air sungai. Seekor burung belibis terbang di
atas kepalanya. Memercikkan air di mukanya. Delisa terperanjat. Mengangkat
kepalanya. Menatap burung tersebut yang terbang menjauh. Ketika itulah Delisa
menatap sesuatu di seberang sungai.
Kemilau
kuning. Indah menakjubkan memantulkan cahaya matahari senja. Sesuatu itu
terjuntai di sebuah semak belukar indah yang sedang berbuah. Delisa gentar
sekali. Ya Allah! Seuntai kalung yang indah tersangkut. Ada huruf D disana.
Delisa serasa mengenalinya. D untuk Delisa. Diatas semak belukar yang merah
buahnya. Kalung itu tersangkut di tangan. Tangan yang sudah menjadi kerangka.
Sempurna kerangka manusia. Putih. Utuh. Bersandarkan semak belukar itu.
UMMI...............
Anisya MAyliana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar